AWALNYA, MENULIS DI BAWAH GERIMIS
… Sebelum kertas benar – benar basah dan tidak lagi bisa ditulisi, segera selesaikan kalimatmu apapun hasilnya. Para penulis terkadang menghasilkan karya – karya pentingnya justru ketika di bawah tekanan...
Liga Alam M, belajar menulis sendiri dan berusaha tetap eksis di antara lingkungan sosial yang memandang dunia kepenulisan tidak terlalu penting. Pernah terpikir untuk tidak lagi menekuni dunia tulis menulis ketika tidak melihat sedikitpun celah untuk mempublikasikan tulisan. Apalagi penerbit cenderung menutup rapat pintunya bagi penulis pemula yang tidak memiliki karya bagus (bagus versi penerbit).
Waktu SD senang baca komik dan waktu kelas 1 SMP baru membaca novel, terutama serial silat Wiro Sableng (judul pertama yang dibaca adalah Cincin Warisan Setan). Hobi ini bertahan hingga kelas 3 SMA (SMK Jurusan Gambar Bangunan) dan kala itu koleksi novel pendekar 212-ku sekitar 200 judul.
Ketika menjadi mahasiswa, mulai mengenal karya sastra lainnya, seperti novel tertralogi Pulau Burunya Pramoedia AT, novelnya Gabriel Gracia Marquez, Milan Kundera, Danielle Steel, Barbara Cartland, Eiji Yoshikawa, Agatha Christie hingga 7 jilid novel JK. Rowling dan juga novel sinting The Da Vinci Code-nya Dan Brown. Pemahaman terhadap dunia sastra berubah, dan mulai mengakui bahwa PENULIS adalah merupakan sebuah profesi yang serius. Orang Indonesia yang umumnya memandang menulis merupakan pekerjaan sampingan yang tidak memiliki prospek apapun rupanya keliru besar…
Keinginan untuk menulis mulai mengelora pada sekitar tahun 2000-an. Mula – mula menulis beberapa cerpen dan dengan percaya diri mengirim ke majalah dan hasilnya sungguh luar biasa: semuanya dikembalikan dengan alasan belum memenuhi syarat. Layar sudah terkembang pantang untuk berpaling… Kemudian menulis lagi beberapa cerpen dan artikel, lalu di kirim ke beberapa koran dan majalah: sebagaimana yang sudah ditakdirkan semua naskah itu nasibnya serupa dengan yang pertama…
Seorang kawan bilang, “Kamu tidak bakat dan berpikirlah untuk melakukan hal lain yang lebih kamu kuasai. Dan ingat kamu kuliah bukan pada jurusan sastra!” Timbul rasa jengkel, pada diri sendiri dan terutama pada media massa. Pada saat yang sama menyeruak rasa cemburu terhadap para penulis yang telah berhasil dan bisa hidup dengan menulis…
Akan kubuktikan kalau pendapat kawan itu keliru. Maka aku kembali menulis artikel dan akhirnya berhasil di muat di sebuah koran lokal tetapi tak ada satupun yang tahu betapa penulisnya merasa senang. Benar kata orang bahwa ‘kita tidak akan pernah bisa terpuruk selama dalam diri kita masih menyimpan selembar harapan’. Aku terus menulis artikel di koran, membuat buletin dan majalah sendiri di kampus dalam bentuk foto copy, agar semangat menulis itu tetap bertahan kuat di tengah lingkungan yang sangat pesimis…
Tahap berikutnya boleh dibilang menggembirakan: tahun 2004 menyelesaikan sebuah novel etnik (meskipun belum bagus tetapi sudah di baca ribuan orang dan banyak juga yang menyatakan lumayan), judulnya Garuda Sang Bima. Setelah itu vakum lama dan setahun penuh mengembara ke Jakarta, terlantar dan benar – benar dalam kondisi terpuruk, kemudian akhirnya memutuskan kembali ke kota Malang lagi. Ilmu yang didapat adalah: potensi dan semangat ternyata tidak cukup untuk bisa eksis. Masih ada satu yang sangat penting yaitu jaringan (akses)…
Jaringanpun mulai coba dibangun meskipun awalnya dianggap sebagian orang sebagai lelucon. Awal tahun 2005 semuanya berubah. Ketika surat pribadiku yang dikirim untuk kerjasama menulis dengan Wali Kota Malang direspon. Aku dipanggil dan presentasi. Meskipun ada beberapa penulis yang lebih profesional ingin melakukan hal yang sama, tetapi pak Wali memberikan kepercayaan kepadaku untuk menulis buku tentang kota Malang dan biografinya. Inilah pengalaman pertama menulis biografi pemimpin daerah dan akhirnya semua menjadi mudah: akses kian terbuka dengan sendirinya dan yang pasti aku bisa membeli banyak buku – buku mahal dan ratusan novel terjemahan yang best-seller… Setahun kemudian mendapat beberapa tawaran menulis buku – buku dokumentasi daerah seperti di Kabupaten Bengkayang dan Kab Melawi di Kalimantan Barat dan lainnya….
Di sela – sela kesibukan dalam menulis buku – buku kerjasama dengan kepala daerah, aku menulis beberapa novel tipis (sebagai bagian dari proses belajar) dan aku menerbitkannya dengan biaya dan merek penerbit sendiri antara 500 hingga 1. 000 eksamplar, lalu dibagikan secara gratis kepada siapapun yang mau membacanya. Sikap ini mungkin belum dilakukan oleh penulis – penulis lain bahkan tidak oleh penulis – penulis mapan sekalipun. 4 judul novel aku terbitkan dengan cara itu yang berarti ribuan jilid telah aku hambur – hamburkan untuk sekedar merayakan betapa bahagianya aku bisa mengolok – olok dunia penerbit terutama penerbit yang dulu menolak naskahku. Bahkan 12 judul buku hasil kerja sama dengan 3 orang kepala daerah (sekitar 12. 000 eks) juga dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Meskipun sarat dengan nuansa politiknya, hal ini cukup menarik. Selain karena yang dipublikasikan adalah karya tulis (yang jauh lebih mendidik ketimbang poster politik), juga bisa tahu lebih banyak mengenai issue – issue lokal…
Sekarang tengah merampungkan beberapa naskah buku, baik buku kerjasama maupun novel. Juga sering menjadi pembimbing penulis pelajar di Perpustakaan Umum Kota Malang, ikut diskusi di kampus atau dikomunitas – komunitas diskusi yang bercorak indie. Selain itu masih terus belajar menulis dan selalu membaca buku setiap hari, terutama sebelum tidur…
Liga Alam M, belajar menulis sendiri dan berusaha tetap eksis di antara lingkungan sosial yang memandang dunia kepenulisan tidak terlalu penting. Pernah terpikir untuk tidak lagi menekuni dunia tulis menulis ketika tidak melihat sedikitpun celah untuk mempublikasikan tulisan. Apalagi penerbit cenderung menutup rapat pintunya bagi penulis pemula yang tidak memiliki karya bagus (bagus versi penerbit).
Waktu SD senang baca komik dan waktu kelas 1 SMP baru membaca novel, terutama serial silat Wiro Sableng (judul pertama yang dibaca adalah Cincin Warisan Setan). Hobi ini bertahan hingga kelas 3 SMA (SMK Jurusan Gambar Bangunan) dan kala itu koleksi novel pendekar 212-ku sekitar 200 judul.
Ketika menjadi mahasiswa, mulai mengenal karya sastra lainnya, seperti novel tertralogi Pulau Burunya Pramoedia AT, novelnya Gabriel Gracia Marquez, Milan Kundera, Danielle Steel, Barbara Cartland, Eiji Yoshikawa, Agatha Christie hingga 7 jilid novel JK. Rowling dan juga novel sinting The Da Vinci Code-nya Dan Brown. Pemahaman terhadap dunia sastra berubah, dan mulai mengakui bahwa PENULIS adalah merupakan sebuah profesi yang serius. Orang Indonesia yang umumnya memandang menulis merupakan pekerjaan sampingan yang tidak memiliki prospek apapun rupanya keliru besar…
Keinginan untuk menulis mulai mengelora pada sekitar tahun 2000-an. Mula – mula menulis beberapa cerpen dan dengan percaya diri mengirim ke majalah dan hasilnya sungguh luar biasa: semuanya dikembalikan dengan alasan belum memenuhi syarat. Layar sudah terkembang pantang untuk berpaling… Kemudian menulis lagi beberapa cerpen dan artikel, lalu di kirim ke beberapa koran dan majalah: sebagaimana yang sudah ditakdirkan semua naskah itu nasibnya serupa dengan yang pertama…
Seorang kawan bilang, “Kamu tidak bakat dan berpikirlah untuk melakukan hal lain yang lebih kamu kuasai. Dan ingat kamu kuliah bukan pada jurusan sastra!” Timbul rasa jengkel, pada diri sendiri dan terutama pada media massa. Pada saat yang sama menyeruak rasa cemburu terhadap para penulis yang telah berhasil dan bisa hidup dengan menulis…
Akan kubuktikan kalau pendapat kawan itu keliru. Maka aku kembali menulis artikel dan akhirnya berhasil di muat di sebuah koran lokal tetapi tak ada satupun yang tahu betapa penulisnya merasa senang. Benar kata orang bahwa ‘kita tidak akan pernah bisa terpuruk selama dalam diri kita masih menyimpan selembar harapan’. Aku terus menulis artikel di koran, membuat buletin dan majalah sendiri di kampus dalam bentuk foto copy, agar semangat menulis itu tetap bertahan kuat di tengah lingkungan yang sangat pesimis…
Tahap berikutnya boleh dibilang menggembirakan: tahun 2004 menyelesaikan sebuah novel etnik (meskipun belum bagus tetapi sudah di baca ribuan orang dan banyak juga yang menyatakan lumayan), judulnya Garuda Sang Bima. Setelah itu vakum lama dan setahun penuh mengembara ke Jakarta, terlantar dan benar – benar dalam kondisi terpuruk, kemudian akhirnya memutuskan kembali ke kota Malang lagi. Ilmu yang didapat adalah: potensi dan semangat ternyata tidak cukup untuk bisa eksis. Masih ada satu yang sangat penting yaitu jaringan (akses)…
Jaringanpun mulai coba dibangun meskipun awalnya dianggap sebagian orang sebagai lelucon. Awal tahun 2005 semuanya berubah. Ketika surat pribadiku yang dikirim untuk kerjasama menulis dengan Wali Kota Malang direspon. Aku dipanggil dan presentasi. Meskipun ada beberapa penulis yang lebih profesional ingin melakukan hal yang sama, tetapi pak Wali memberikan kepercayaan kepadaku untuk menulis buku tentang kota Malang dan biografinya. Inilah pengalaman pertama menulis biografi pemimpin daerah dan akhirnya semua menjadi mudah: akses kian terbuka dengan sendirinya dan yang pasti aku bisa membeli banyak buku – buku mahal dan ratusan novel terjemahan yang best-seller… Setahun kemudian mendapat beberapa tawaran menulis buku – buku dokumentasi daerah seperti di Kabupaten Bengkayang dan Kab Melawi di Kalimantan Barat dan lainnya….
Di sela – sela kesibukan dalam menulis buku – buku kerjasama dengan kepala daerah, aku menulis beberapa novel tipis (sebagai bagian dari proses belajar) dan aku menerbitkannya dengan biaya dan merek penerbit sendiri antara 500 hingga 1. 000 eksamplar, lalu dibagikan secara gratis kepada siapapun yang mau membacanya. Sikap ini mungkin belum dilakukan oleh penulis – penulis lain bahkan tidak oleh penulis – penulis mapan sekalipun. 4 judul novel aku terbitkan dengan cara itu yang berarti ribuan jilid telah aku hambur – hamburkan untuk sekedar merayakan betapa bahagianya aku bisa mengolok – olok dunia penerbit terutama penerbit yang dulu menolak naskahku. Bahkan 12 judul buku hasil kerja sama dengan 3 orang kepala daerah (sekitar 12. 000 eks) juga dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Meskipun sarat dengan nuansa politiknya, hal ini cukup menarik. Selain karena yang dipublikasikan adalah karya tulis (yang jauh lebih mendidik ketimbang poster politik), juga bisa tahu lebih banyak mengenai issue – issue lokal…
Sekarang tengah merampungkan beberapa naskah buku, baik buku kerjasama maupun novel. Juga sering menjadi pembimbing penulis pelajar di Perpustakaan Umum Kota Malang, ikut diskusi di kampus atau dikomunitas – komunitas diskusi yang bercorak indie. Selain itu masih terus belajar menulis dan selalu membaca buku setiap hari, terutama sebelum tidur…
My Books
GARUDA SANG BIMA
Novel yang berlatar sejarah nyata seribu-an tahun yang silam. Di sebuah negeri yang jauh, hiduplah kumpulan manusia yang memuja maRafu (kekuatan gaib yang diyakini bersemayam di pohon besar, mata air dan batu besar) di mana suku itu dikepalai oleh seorang Junjungan Ncuhi yang konon bisa terbang dan menghilang seperti hantu… namun, riwayat kuno ini berakhir ketika banyak saudagar Jawa yang berlayar ke timur Indonesia dan membawa ajaran Hindu serta sistem Kerajaan.
Novel ini diangkat dari sejarah kuno orang Bima, bagaimana daerah itu pertama kali didirikan, bagaimana konfliknya dan bagaimana gambaran kedatangan seorang pelaut tangguh, yang menyatakan dirinya sebagai putra Pandawa yang sakti mandraguna, yang akhirnya sekarang negeri itu dalam peta nasional bernama Bima (di Pulau Sumbawa)… Ternyata benar, pendiri kerajaan Bima adalah orang Jawa Timur
PELANGI DI TAMAN OVAL
Novel remaja ini ditulis karena banyak masukan dari para junior di Kelompok Sastra Pelajar di bawah binaan Perpustakaan Umum Kota Malang. Selain itu karena ingin ikut mempromo-kan Malang sebagai kota vokasi.
Bercerita tentang persahabatan di sekolah yang selalu diwarnai konflik yang nggak penting, persaingan hanya karena masalah kosmetik dan lain sebagainya. Cinta ikut merusak persahabatan dan ketika sekolah ini mengadakan sebuah ‘pesta demokrasi’ maka yang terjadi justru atraksi yang maha democrazy…
Bahkan seorang cewek yang bernama Ratu merubah warna rambut dan merevolusi penampilannya hanya agar berbeda dengan kembarannya… tak ada kawan abadi dalam sebuah persaingan, yang ada adalah kepentingan.
BUIH – BUIH OMBAK
Novel ini merupakan novel perlawanan. Mengkritik perusahaan asing yang mengelola tambang emas terbesar kedua di Indonesia di Pulau Sumbawa (PT. Newmont Nusra). Perusahaan itu kebanyakan sahamnya di miliki orang Amerika, Jepang, Australia dan Kanada. Orang pulau Sumbawa sendiri sekedar pekerja dan secara rutin berkelahi dengan banjir, kemiskinan dan SDM yang pas – pasan.
Rinjani seorang cewek lokal rela berpisah dengan pacarnya, Galang, karena dia memilih bekerja di tambang emas yang bergaji besar itu. Cinta mereka akhirnya kandas karena Rinjani menjalin hubungan terlarang dengan rekan kerjanya seorang pria Kanada. Sementara galang kuliah di ibukota, menjadi aktifis lingkungan dan gencar mengkritik kerusakan lingkungan di lokasi Newmont akibat pembuangan limbah tailing yang beracun itu di pantai Benete.
Galang sadar, bahwa Rinjani kekasihnya tidak akan pernah kembali padanya karena matanya telah silau oleh gemerlap materi di tambang Newmont. Maka diapun berselingkuh dengan sahabat organisasinya yang bernama Ervana dan hamil. Ketika melahirkan anak lelaki, betapa gembiranya dia karena telah memiliki peluru baru yang kelak akan menjadi ombak raksasa di pantai Benete, yang setia menerjang karang meskipun dia tahu karang itu teramat kokoh. . .
TUMBAL PERAWAN JENGGALA
Alkisah… pada abad 12 di tanah Kediri. Hiduplah seroang gadis cantik berwajah sendu. Namanya Dewi Anggraini. Dia gadis desa yang lahir dari kalangan rakyat biasa… cerita berubah ketika Dewi dicintai oleh anak raja Kediri, yaitu pangeran Inu Kertapati… Baginda raja marah dan tidak setuju asmara mereka. Pangeran harus kawin dengan putri raja tetangga yaitu Putri Dewi Sekartaji. Pangeran Inu menolak. Dia sangat cinta pada Anggraeni yang dari rakyat jelata dan dia lebih memilih jadi rakyat biasa ketimbang harus dijodohin dengan Sekartaji…
Baginda murka. Maka dia mengeluarkan perintah rahasia: Dewi Anggraini digiring ke hutan oleh dua algojo istana dan di bunuh di tempat sunyi itu dengan bengis, dengan harapan pangeran Inu berhenti mencintainya…. Medengar rencana jahat ayahnya, pangeran amat terluka. Tengah malam dia kabur dengan kuda, berlari hingga pantai utara (sekarang di sekitar Probolinggo) dan mulai berlayar hingga ke Gilimanuk Bali.. putri Raja tetangga juga sakit hati karena mendengar calon suaminya menghilang, maka dengan menyamar diapun minggat ke tanah Timur lewat pantai selatan dan sampai di Gilimanuk… di sanalah dia bertemu seorang pemuda tampan, yang menolong dirinya yang hampir saja diperkosa 2 preman pelabuhan. Dan dia tidak tahu bahwa pemuda itu sebenarnya bernama Inu Kertapati, putra raja tetangga yang kabur.
Pelarian yang penuh darah itu, ternyata mempertemukan dua orang yang dulu hampir sulit dijodohkan. Sejarah kemudian mencatat bahwa ketika mereka akhirnya kawin dan pulang, gelar mereka adalah Kamesywara dan Prameswary… kisah ini boleh dibilang merupakan awal dari berdirinya tanah Jawa Timur, karena pada saat itu ada penyatuan dua kerajaan besar yaitu kerajaan Panjalu dan Jenggala menjadi kerajaan Daha Raya…Meski begitu herois, orang lalu melupakan bahwa dibalik kisah hebat itu tersimpan luka yang sangat menyedihkan: Dewi Anggraini yang cantik dan manja itu akhirnya meninggal di hutan lebat dalam suasana yang sangat sunyi… Sejarah takkan peduli….
Novel yang berlatar sejarah nyata seribu-an tahun yang silam. Di sebuah negeri yang jauh, hiduplah kumpulan manusia yang memuja maRafu (kekuatan gaib yang diyakini bersemayam di pohon besar, mata air dan batu besar) di mana suku itu dikepalai oleh seorang Junjungan Ncuhi yang konon bisa terbang dan menghilang seperti hantu… namun, riwayat kuno ini berakhir ketika banyak saudagar Jawa yang berlayar ke timur Indonesia dan membawa ajaran Hindu serta sistem Kerajaan.
Novel ini diangkat dari sejarah kuno orang Bima, bagaimana daerah itu pertama kali didirikan, bagaimana konfliknya dan bagaimana gambaran kedatangan seorang pelaut tangguh, yang menyatakan dirinya sebagai putra Pandawa yang sakti mandraguna, yang akhirnya sekarang negeri itu dalam peta nasional bernama Bima (di Pulau Sumbawa)… Ternyata benar, pendiri kerajaan Bima adalah orang Jawa Timur
PELANGI DI TAMAN OVAL
Novel remaja ini ditulis karena banyak masukan dari para junior di Kelompok Sastra Pelajar di bawah binaan Perpustakaan Umum Kota Malang. Selain itu karena ingin ikut mempromo-kan Malang sebagai kota vokasi.
Bercerita tentang persahabatan di sekolah yang selalu diwarnai konflik yang nggak penting, persaingan hanya karena masalah kosmetik dan lain sebagainya. Cinta ikut merusak persahabatan dan ketika sekolah ini mengadakan sebuah ‘pesta demokrasi’ maka yang terjadi justru atraksi yang maha democrazy…
Bahkan seorang cewek yang bernama Ratu merubah warna rambut dan merevolusi penampilannya hanya agar berbeda dengan kembarannya… tak ada kawan abadi dalam sebuah persaingan, yang ada adalah kepentingan.
BUIH – BUIH OMBAK
Novel ini merupakan novel perlawanan. Mengkritik perusahaan asing yang mengelola tambang emas terbesar kedua di Indonesia di Pulau Sumbawa (PT. Newmont Nusra). Perusahaan itu kebanyakan sahamnya di miliki orang Amerika, Jepang, Australia dan Kanada. Orang pulau Sumbawa sendiri sekedar pekerja dan secara rutin berkelahi dengan banjir, kemiskinan dan SDM yang pas – pasan.
Rinjani seorang cewek lokal rela berpisah dengan pacarnya, Galang, karena dia memilih bekerja di tambang emas yang bergaji besar itu. Cinta mereka akhirnya kandas karena Rinjani menjalin hubungan terlarang dengan rekan kerjanya seorang pria Kanada. Sementara galang kuliah di ibukota, menjadi aktifis lingkungan dan gencar mengkritik kerusakan lingkungan di lokasi Newmont akibat pembuangan limbah tailing yang beracun itu di pantai Benete.
Galang sadar, bahwa Rinjani kekasihnya tidak akan pernah kembali padanya karena matanya telah silau oleh gemerlap materi di tambang Newmont. Maka diapun berselingkuh dengan sahabat organisasinya yang bernama Ervana dan hamil. Ketika melahirkan anak lelaki, betapa gembiranya dia karena telah memiliki peluru baru yang kelak akan menjadi ombak raksasa di pantai Benete, yang setia menerjang karang meskipun dia tahu karang itu teramat kokoh. . .
TUMBAL PERAWAN JENGGALA
Alkisah… pada abad 12 di tanah Kediri. Hiduplah seroang gadis cantik berwajah sendu. Namanya Dewi Anggraini. Dia gadis desa yang lahir dari kalangan rakyat biasa… cerita berubah ketika Dewi dicintai oleh anak raja Kediri, yaitu pangeran Inu Kertapati… Baginda raja marah dan tidak setuju asmara mereka. Pangeran harus kawin dengan putri raja tetangga yaitu Putri Dewi Sekartaji. Pangeran Inu menolak. Dia sangat cinta pada Anggraeni yang dari rakyat jelata dan dia lebih memilih jadi rakyat biasa ketimbang harus dijodohin dengan Sekartaji…
Baginda murka. Maka dia mengeluarkan perintah rahasia: Dewi Anggraini digiring ke hutan oleh dua algojo istana dan di bunuh di tempat sunyi itu dengan bengis, dengan harapan pangeran Inu berhenti mencintainya…. Medengar rencana jahat ayahnya, pangeran amat terluka. Tengah malam dia kabur dengan kuda, berlari hingga pantai utara (sekarang di sekitar Probolinggo) dan mulai berlayar hingga ke Gilimanuk Bali.. putri Raja tetangga juga sakit hati karena mendengar calon suaminya menghilang, maka dengan menyamar diapun minggat ke tanah Timur lewat pantai selatan dan sampai di Gilimanuk… di sanalah dia bertemu seorang pemuda tampan, yang menolong dirinya yang hampir saja diperkosa 2 preman pelabuhan. Dan dia tidak tahu bahwa pemuda itu sebenarnya bernama Inu Kertapati, putra raja tetangga yang kabur.
Pelarian yang penuh darah itu, ternyata mempertemukan dua orang yang dulu hampir sulit dijodohkan. Sejarah kemudian mencatat bahwa ketika mereka akhirnya kawin dan pulang, gelar mereka adalah Kamesywara dan Prameswary… kisah ini boleh dibilang merupakan awal dari berdirinya tanah Jawa Timur, karena pada saat itu ada penyatuan dua kerajaan besar yaitu kerajaan Panjalu dan Jenggala menjadi kerajaan Daha Raya…Meski begitu herois, orang lalu melupakan bahwa dibalik kisah hebat itu tersimpan luka yang sangat menyedihkan: Dewi Anggraini yang cantik dan manja itu akhirnya meninggal di hutan lebat dalam suasana yang sangat sunyi… Sejarah takkan peduli….



